Kenapa personil slipknot tuh pada pake topeng serem…?
Karena…
Karena gosipnya, para personil slipknot punya tampang yang nggak banget sebagai rocker (baca: culun). Dengan tampang yang culun itu, mereka akan sangat kesulitan sekali menularkan emosinya ke penonton. Mereka pasti tidak akan merasa percaya diri untuk jumpalitan di atas panggung sambil berteriak. Mereka ingin sebuah totalitas dalam performansinya.
Walaupun dalam sebuah seni yang layaknya dinikmati adalah karyanya, bukan senimannya. Secara objektif kita bisa menentukan siapa yang berhak diapresiasi. Tidak ada dikotomi dalam hal mengapresiasi. Karya seni adalah bagian dari seniman itu sendiri.
Topeng dalam kontemplasi.
Dalam seni tari tradisional, topeng telah digunakan dalam banyak pertunjukan lokal. Topeng cirebon misalnya, dalam suatu pementasan digunakan banyak ragam topeng yang mereprentasikan siklus kehidupan manusia. Dari topeng bayi, anak-anak, pemuda, dewasa, sampai tua.
Dalam pantomim, wajah-wajah para pemain diberikan garis-garis terang disekitar mata dan mulut mereka agar penonton bisa notice terhadap peran yang mereka mainkan. Tunggu dulu.. biar notice? Haha, dalam kehidupan nyata sekalipun, kita tidak bisa memungkiri kalau sebenarnya kitapun ingin membangun eksistensi pribadi lewat hal-hal yang bisa kita ‘tunjukkan’ kepada dunia.
Slipknot memang membutuhkan topeng untuk mendukung penampilan mereka, dan barangkali kita juga harus membutuhkan topeng mereka agar bisa menikmati musik mereka secara total—seandainya wajah mereka memang benar-benar culun.
Ibarat profile handphone, topeng bisa kita gunakan secara temporer dalam kondisi yang tepat. Kan ngga bagus juga kalo setting-an defaultnya kita seorang sanguinist tapi tetap memaksa untuk vokal dalam kondisi yang selayaknya diam. Adaptasi itu penting. Tapi saya lebih menyebutnya ke istilah alter ego ketimbang topeng. Topeng memang bisa menawarkan keamanan dan kenyamanan, tapi semu.
Ah, lagi-lagi tentang sebuah eksistensi…
^Menghitung-hitung koleksi topeng saya^