22
Jan
08

Rose is Rose

roseisrose

Rose is rose. Comic strip buatan Pat Brady ini sungguh menyejukkan sekali. Membacanya dijamin membuat kita senyum-senyum sendiri. Bercerita tentang kehidupan sehari-hari sebuah keluarga–seorang ayah (jimbo), ibu (Rose), anak (Pasquale) dan seekor kucing (Peekaboo)–yang sangat harmonis. Benar-benar indah.

Kejadian-kejadian dalam strip komik ini merupakan kejadian rumah tangga yang sangat biasa kita temui sehari-hari, tapi mereka bisa memperlihatkan perspektif keindahan yang sering kita lewatkan begitu saja.
Coba deh dibaca. sangat meneduhkan…

^Duh, berapa kali saya menyebutkan kata superlatif indah ya? tapi serius kok. Saya tidak akan menyesal exaggerate kayak gini. The best comic relieve ever…^

10
Nov
07

Video Game

Cloud : “I thought if I got ‘stronger’ I could get someone to notice…”
Tifa : “Someone has to notice you…? Who?”
Cloud : “Who…? You know who! You, that’s who!”
-Final Fantasy VII-

Waktu zaman SMA dulu addicted banget sama yang namanya RPG. Semua judul RPG buat Playstation sudah saya coba. Secara pribadi, saya hanya menikmati videogame yang memiliki storyline yang menarik ketimbang hanya sekedar dari sudut grafis atau gameplaynya saja. Main RPG seperti layaknya membaca novel bergenre fiksi fantasy—berbahasa inggris—setebal beratus-ratus halaman, namun lebih atraktif dan interaktif.

Menurut saya, project tiap-tiap RPG sangat dipersiapkan dengan matang sekali. Mereka bisa memberikan sentuhan edukasi dan entertainment yang sangat bagus. Saya bisa belajar conversation dari tiap-tiap percakapan di dalamnya. Malahan pada salah satu sekuel Final Fantasy terdapat wawasan yang luas tentang mitologi dan identifikasi mineral. (Saya pernah main quiz dengan seorang teman mahasiswa pertambangan, dan memenangkan pertanyaan seputar identifikasi mineral. Ruby, Peridot, amethyst.. Aha, no offence Pal^^). Saya pernah kaget sekali ketika kelas 3 SMA dulu memainkan game Chrono Cross, game itu menjelaskan tentang Adenin Timin Guanin Citocin (ATGC), dan hukum Maendels. Salah satu pelajaran biologi waktu itu. Sungguh sangat berbobot sekali project mereka. Kudos buat SquareEnix!

Media alternatif dalam belajar banyak sekali tersedia. Tidak hanya sebatas institusi—formal dan informal—maupun lingkungan sosial saja. Bahkan dalam keadaan soliter yang tidak memungkinkan kita untuk berfikir secara seriuspun bisa menjadi sarana alternatif dalam mengembangkan diri dan bersenang-senang. Dalam konteks ini, video game contohnya.

Orang tua manapun awalnya akan sangat risau sekali terhadap efek negatif yang diakibatkan video game. Mulai dari nilai akademis, sampai ke content kekerasan yang disuguhkan. Tapi kembali lagi ke integritas dan tanggungjawab sang anak (pengguna) dalam memilah hiburan yang berbobot dan punya sense. Videogame bukanlah sekedar permainan sepakbola Winning Eleven dalam lapangan 14 Inch melulu. Bagaimanapun, semuanya bisa menjadi pedang bermata dua. Dan perhatian orang tua juga sangat diperlukan dalam membangun integritas dan tanggung jawab si anak.

06
Oct
07

Realita di Lapangan

Field

Ternyata semuanya tidak sesuai dengan yg diidealkan. Keringat udah bercucuran bolak balik lapangan (baca: medan perang kampus sial*n), tapi ternyata satu gol pun belum tercipta. Malah kebobolan sana sini. Udah dapet satu kartu kuning plus memasuki injury time. Kekurangan ion tubuh plus penuh racun sana sini [kafein, nikotin, timbal, karbon dioksida, monosodium glutamat, karsinogen, formalin]. Wasit kekurangan integritas dalam memipin, plus angkle memar abis ditackle. Lapangan becek tergenang air hujan bulan Januari.

Ada ungkapan menarik nan klasik, “bola itu bundar. Hidup seperti roda, kadang diatas kadang dibawah”. Sepertinya bisa dijadikan analogi yang tepat dalam menggambarkan realita. Menjalani hidup bukanlah hitungan matematis-hubungan kausal sebab akibat-gaya aksi reaksi.  Hasil pertandingan sepakbola bisa dispekulasi, strategi bisa bisa di rencanakan, permainan bisa diikuti. Tapi tetap saja.. blunder terjadi tak diharapkan, pemain bisa kelelahan, kepemimpinan wasit bisa mengecewakan.

^Its allright Ma, im not sighing. Its allright Ma, i can make it. Masalah kuliah pasti bisa dilewati. Dan masih.. dengan prinsip survival for the fastest fittest^

04
Oct
07

Berat dan Ringan

unbearable_kundera_book_cover

Saya pertama kali mengenal Milan Kundera lewat novelnya The Unbearable Lightness of Being. Buku bagus. Dari bagian awalnya saja saya langsung merasa mendapatkan pelajaran berharga ketika ia menjelaskan tentang kontradiksi ringan dan berat. Saya kebingungan kalau harus mereview seluruh bagian buku ini. Terlalu banyak petikan yang harus dituliskan rasanya. Jadi, hanya sebatas gagasan berat dan ringan sajalah..

Buku ini saya dapatkan di sebuah toko buku dibilangan Matraman. Waktu itu kondisi saya miris sekali. Galau, getir, kehilangan passion, motivasi, atau apalah itu.

Saya sempat mengulang-ulang terus bab awal buku itu sebelum meneruskan membaca bukunya sampai akhir karena prolognya saja cukup menyita perhatian saya.

Dia menuliskan,

Beban yang teramat berat melumatkan kita, tertekuk dibawahnya, menghujamkan kita ke tanah… Oleh karena itu, pada saat yang bersamaan, beban terberat berkesan sebagai prestasi hidup yang sangat penting. Semakin berat suatu beban, semakin membumi kehidupan kita, dan juga semakin nyata dan benar.

Sebagai tolak belakang, ketiadaan beban sama sekali, membuat keberadaan manusia menjadi ringan seperti udara, yang terbang, menjauhi bumi, ke eksistensi terestrial, setengah nyata dengan segala gerakan yang bebas dan remeh. (Milan Kundera, The Unbearable…, Penerbit Fresh book, Hal. 9)

Saya berpikir bahwa ujian itu artinya sebuah kepercayaan dari Yang Maha Kuasa yang harus dilalui dengan sukacita.

Akhir kata, segalanya diselubungi oleh aura nostalgia, bahkan guillotine sekalipun. (Milan Kundera, The Unbearable…, Penerbit Fresh book, Hal. 7)

02
Sep
07

Insomnia

insomnia

Kalimat terakhirnya bisa sangat mengiris-iris hati!

^Ketika insomnia selalu melanda..^

29
Aug
07

Topeng

Kenapa personil slipknot tuh pada pake topeng serem…?
Karena…
Karena gosipnya, para personil slipknot punya tampang yang nggak banget sebagai rocker (baca: culun). Dengan tampang yang culun itu, mereka akan sangat kesulitan sekali menularkan emosinya ke penonton. Mereka pasti tidak akan merasa percaya diri untuk jumpalitan di atas panggung sambil berteriak. Mereka ingin sebuah totalitas dalam performansinya.

Walaupun dalam sebuah seni yang layaknya dinikmati adalah karyanya, bukan senimannya. Secara objektif kita bisa menentukan siapa yang berhak diapresiasi. Tidak ada dikotomi dalam hal mengapresiasi. Karya seni adalah bagian dari seniman itu sendiri.

Topeng dalam kontemplasi.
Dalam seni tari tradisional, topeng telah digunakan dalam banyak pertunjukan lokal. Topeng cirebon misalnya, dalam suatu pementasan digunakan banyak ragam topeng yang mereprentasikan siklus kehidupan manusia. Dari topeng bayi, anak-anak, pemuda, dewasa, sampai tua.
Dalam pantomim, wajah-wajah para pemain diberikan garis-garis terang disekitar mata dan mulut mereka agar penonton bisa notice terhadap peran yang mereka mainkan. Tunggu dulu.. biar notice? Haha, dalam kehidupan nyata sekalipun, kita tidak bisa memungkiri kalau sebenarnya kitapun ingin membangun eksistensi pribadi lewat hal-hal yang bisa kita ‘tunjukkan’ kepada dunia.

Slipknot memang membutuhkan topeng untuk mendukung penampilan mereka, dan barangkali kita juga harus membutuhkan topeng mereka agar bisa menikmati musik mereka secara total—seandainya wajah mereka memang benar-benar culun.
Ibarat profile handphone, topeng bisa kita gunakan secara temporer dalam kondisi yang tepat. Kan ngga bagus juga kalo setting-an defaultnya kita seorang sanguinist tapi tetap memaksa untuk vokal dalam kondisi yang selayaknya diam. Adaptasi itu penting. Tapi saya lebih menyebutnya ke istilah alter ego ketimbang topeng. Topeng memang bisa menawarkan keamanan dan kenyamanan, tapi semu.
Ah, lagi-lagi tentang sebuah eksistensi…

^Menghitung-hitung koleksi topeng saya^

20
Jul
07

Bersahaja

Saya habis menonton salah satu program TV tentang fauna. Ternyata fisiologi fauna-fauna itu berkembang dengan beradaptasi terhadap kondisi habitatnya. Seperti yang diceritakan oleh sang narator, yang dikenal dalam kamus mereka hanyalah bertahan hidup dan melanjutkan hidup. Cuma itu. Kuncinya adalah adaptasi dan survival, kata sang narator.

Kalau manusia?
Manusia benar-benar berbeda, lebih kompleks dan tidak bisa disamakan dengan binatang-binatang itu. Klasik sih, “manusia punya akal, nafsu, dan nurani”. Dan dengan itulah manusia membangun PERADABAN. Tapi kok malah terjadi dekadensi dimana-mana, bukan giat-giatnya membangun malah senang menghancurkan dan melukai. Tidak usah berpikir jauh secara universal deh, membangun kehidupan yang bersahaja saja manusia terlalu sering khilaf.
Ah, sudahlah… saya cuma lagi kesal.




The Blog’s Expectation

Tomorrow will be the most beautiful day of Raymond K. Hessel's life. His breakfast will taste better than any meal you and I have ever tasted. -Tyler Durden in Fight Club-

Twitter

  • keep hoping that she will walk over to me. But you never does!--3 days ago
  • lbh senang mnghabiskn 1,5 jam brsama film (500) Days of Summer, lagi & lagi.. ketimbang nyetel tv--1 week ago
  • #nowplaying another sunny day - belle and sebastian--1 week ago
  • @ Bencoolen--2 weeks ago
  • "If only you could lower your pride, you wouldn't become an outsider anymore", my little heart's voice said--1 month ago
  • PURE SATURDAY!--1 month ago
  • when the president talks to God - Bright eyes--2 months ago
  • A bad plan is better than no plan. Have a happy weekend, fellas.. Stop whining.. and Enjoy!--2 months ago
  • welcoming december. In this cold rainy days i'll give you my warmest smile :)--2 months ago
  • Bioritmik ku kembali pulih. Horee! Good Morning..--2 months ago

Blog Stats

  • 277 Visitors